Thursday, February 3, 2011

Harapan!!!

Kupandangi kamarku sekitar, dari depan hingga belakang, dari ujung yang satu ke ujung yang lainnya. Kulihat time schedule yang kian tak terawat terkena debu, ada sarang laba-laba, seperti sebuah ekosistem akan tumbuh. Ada juga white boardku -yang pada saat kuliah dulu- selalu dipenuhi dengan agenda-agenda harian, mingguan, bulanan, bahkan ada juga target-target yang menjadi prioritas untuk segera diselesaikan, segera dipenuhi. Tapi kini, tulisan itu masih tersisa. Antara lain bukti hutang-hutang saya yang belum terselesaikan, kepada teman, kepada ayah, uang listrik tahun ini. Ada juga bukti investasi saya yang ditulis di papan itu. Lumayan besar ternyata. Sebenarnya kalau investasi tersebut digunakan untuk membayar hutang, lunas sudah, tidak ada lagi beban hutang yang harus dibayar. Kabar buruknya, sumber investasi itu juga bukan dari kantong saya sendiri. Ini hanya angan-angan saja :p

Dengan tegas, tanganku ku gerakan, menghapus semua tulisan-tulisan yang masih terpampang itu. Ku ikrarkan kata-kata baru -Tidak ada alasan lagi!- sebuah tulisan penyemangat, karena saya rasa akhir-akhir ini aziz terlalu banyak beralasan, mencari yang belum ada, tidak mencoba untuk memaksimalkan apa yang ada, potensi yang telah dianugrahkan, sarana yang telah disediakan. Akhirnya, aziz tulis kembali apa yang menjadi orietansi, masa lalu dan yang akan datang. Walaupun orientasi ini aziz dapat belum lama ini. Tidak ada kata terlambat untuk berharap dan bermimpi. Cita-cita adalah energi untuk menggerakan. Harapan sudah seharusnya bisa mengakomodir kemauan menjadi amal perbuatan, sehingga harapanpun terwujud.

Beberapa hari ini adalah saat-saat dimana semangat untuk berjuang pada titik nadir, posisi yang paling rendah. Orientasi yang selama ini ada dan dibangun, serasa tidak lagi bisa menggerakan. Kehilangan orientasi, tubuh ini terasa sangat susah untuk digerakan, terhambat untuk membuat karya-karya yang bisa dibanggakan. Ya Allah semoga aziz bisa melewati ujian ini. Sudah beberapa kali, barangkali saya mengalami saat-saat seperti ini. Tetap dengan agenda-agenda wajib yang tidak ditinggalkan. Semoga semua berjalan dengan lancar.

Saturday, January 22, 2011

SendAll!

Beberapa hari ini, kawan yang satu ini adalah teman saya yang paling setia menemani setiap kegiatan-kegiatan saya dimanapun. Mulai dari masjid, kampus, ruang kuliah, beli makanan, pasar, menjadi relawan, masuk kamar mandi, hampir disetiap kesempatan dan waktu selalu ditemani dengan 'sendall' ini. Kecuali kalau datang ke kondangan tentuk tidak pake ni sendall. Kalau dilihat dengan seksama, warna sendall ini memang sama. Tetapi jika ditelurusi lebih jauh, tidak perlu pake mikroskop, sebenarnya kedua sendall ini berbeda. Yang satu mereknya ardiles, yang satunya merknya skyway. Anehnya walaupun berbeda, sendall ini tetap saya pakai sampai sekarang.

Kalau dilihat dengan model-model sendall jepit sekarang, perbedaan bentuk atau warna pada sendall kiri dan kanan itu menjadi hal yang lumrah, malah bisa disebut trend. Saya juga punya seorang teman yang membeli sendall, terang-terangan, langsung dari toko, jelas-jelas beda antara sisi kanan dan kiri, tetapi tetap saja dibeli. Kurang paham apakah sampai sekarang masih dipakai atau tidak. Dilihat-lihat beliaunya bangga sekali, memakai sendall aneh tersebut. Ya, itulah fenomena dan keanehan yang terjadi pada masa-masa sekarang ini. Yang aneh yang dicari, atau bahkan bisajadi yang dibanggakan.

Tapi, terhadap diri saya, sejarah berkata lain. Kejadian yang menimpa saya, sehingga menjadikan sendall berbeda tidak begitu tragis. Awalnya, beberapa hari yang lalu, saya pulang ke rumah dan dibelikan sama ummi sendall jepit baru, karena memang selama ini memakai sendall yang sudah sangat butut sekali (lebay :p). Kemudian, dibawalah sendall itu ke jogja, tempat saya biasanya bermain dan belajar, sampai akhirnya sendall itu saya bawa ke masjid, karena waktu itu sudah waktunya sholat. Bada sholat didapati sendall saya sudah berubah seperti itu. Saya tetap berprasangka baik, barangkali ada orang yang salah ngambil. Karena memang jenis sendall di atas sungguh sangat pasaran, banyak sekali orang punya, banyak sekali orang memakainya, karena simpel, ergonomis, ekonomis, cukup keren. Waktu sholat berikutnya datang, saya kembali dengan niat tambahan, semoga seseorang yang tertukar sendallnya dengan saya, juga ke masjid lagi dan saya bisa menukar sendall pemberian ummi. Harapan itu masih ada, saya fikir seperti itu (kayak lyric nasyidnya shouhar ya...). Tetapi yang ditunggu tak kunjung datang, jamaah masjid cuman dihadiri beberapa dan saat saya lihat ditempat sendall, sendall yang saya maksudpun tidak ada. Saya berucap, 'barangkali memang orang yang tertukar sendallnya dengan sendall saya, memang lebih menyukai sendall saya ;)' Ya akhirnya saya menggunakan sendall ini sampai sekarang, entah sampai kapan.

Posted to learn writing (cerita tentang sendall)

Sunday, January 16, 2011

Introducing My Self

Apakah saya sudah mengenal diri saya sendiri? Please, answer this question!
Masih ingat sekali saat beberapa waktu yang lalu membaca buku. Kita harus bisa mendefinisikan diri sendiri. Untuk apa? tentu untuk mengenal diri sendiri. Kemudian apa manfaatnya? tentu dengan mengenal diri sendiri, akan diketahui kelebihan dan kekurangan pribadi, sehingga misalnya kita punya tujuan - sebenarnya kita harus punya tujuan- maka akan lebih mudah dalam berusaha mewujudknannya, insyaAllah. ini ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab, dan bisa ditambahkan lagi! Kalau belum punya jawaban dengan pertanyaan-pertanyaan ini, maka segeralah reorientasikan lagi hidup Anda, dan mulai dengan semangat baru!
  1. Siapakah kita (saya) sesungguhnya?
  2. Dimana letak posisi saya dalam sejarah panjang peradaban manusia dibumi ini?
  3. Dimana letak peran saya sebagai makhluk di jagat raya yang sangat luas ini?
  4. Apakah tujuan penciptaan saya?
  5. Apakah karya penting yang akan saya hasilkan?

Friday, January 14, 2011

Pintu Itu Bernama Memiliki

Pintu itu bernama memiliki. Saat negeri ini kian terpuruk dengan masalah-masalah yang tak kunjung bersolusi, manusianya tak sadar-sadar juga, bahwa masalah itu perlu segera diakhiri. Masalah ada bukan malah terselesaikan pasti, tetapi penutupan masalah dengan masalah lain menjadi hal yang dimaklumi. Masalah saat ini akan terakumulasi yang setiap saat bisa meledak, dengan dampak lebih besar, jauh diluar perkiraan. Kasus korupsi yang menimpa bangsa ini memang sudah ada sejak negeri ini ada. Sampai saat ini, korupsi kian parah, kian merajalela, dari mikro sampai makro, dari utara sampai selatan, dari kebarat-baratan sampai kejahiliyahan. Korupsi menjadi trend baru dalam dinamika kehidupan bangsa Indonesia. Korupsi sudah diresistensikan menjadi hal yang biasa terjadi. Saat seseorang mengambil harta milik rakyat, mereka anggap bahwa harta itu adalah rejekinya, bahwa harta itu adalah miliknya, dengan kontribusinya yang bisa jadi harus dipertanyakan kemurniannya. Mereka lupa bahwa amanah yang diberikan telah digerogoti, diselewengkan satu per satu dengan dalih kesejahterahan diri, kesejahterahan golongan, kesejaterahan keluarga. Lupa bahwa yang dimiliki adalah hak yang seharusnya diterima oleh bangsa Indonesia, rakyat negeri ini. Barangkali rasa memiliki bangsa ini telah pudar, telah hilang bersama kejumudan akan tak berhentinnya masalah di negeri ini, tidak adanya perbaikan di negeri ini. Memang kebertepatan generasi ini adalah sebagai pengubah arah yang lebih baik lagi dari generasi selanjutnya, sesuai dengan nilai-nilai Ketuhanan. Harapan itu tetaplah ada. Harapan bahwa kita masih memiliki kepribadian khas yang harus diperjuangkan menjadi bahan bakar pemacu setiap perubahan ke nilai-nilai yang lebih bermoral. Bahwa betul, sila pertama pancasila kita adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Memang sudah selayaknya, pintu itu bernama memiliki. Memiliki rasa bahwa bangsa ini adalah milik kita bersama untuk kesejahterahan bersama.

Pintu itu bernama memilki. Saat semangat mulai rapuh berorganisasi. Tak ada ruh yang menyemangati. Hari-hari menjadi waktu yang sangat membosankan, tanpa tujuan, tanpa target. Ketemu staf maupun sahabat sevisipun di organisasi terasa hambar, hampa tanpa rasa. Kegiatan-kegiatan yang diamanahkan bukan lagi menjadi ladang amal, tetapi menjadi ladang beban, semakin menghilangkan ruh untuk berkontribusi. Menjadikan agenda-agenda harian terasa penat, terasa bosan. Barangkali rasa memiliki organisasi itu sudah kian terkikis. Tak ada lagi kesenangan dengan tempat kita bersemayam. Tidak ada lagi gairah ditempat kita yang seharusnya bisa mengukir karya-karya besar kita. Tidak ada lagi ghirah perubahan dan pengejawantahan visi dan misi serta gerak langkah ruh organisasi. Hal itu terkikis dengan ego dan kesombongan yang mulai menjangkiti. Iri hati karena tak berprestasi. Lupa hakekat bahwa amal selalu berawal dari niat. Dan yang seharusnya diniatkan adalah karena mencari ridho Allah swt. Rasa memilki itu telah hilang, digantikan hanya dengan bualan sampah untuk mendapatkan sanjungan dari manusia yang semakin mengotori hati dengan riya’ yang menjijikan. Rasa memiliki itu kian hilang bersama tak terakomodasinya aktualisasi diri. Rasa memiliki itu hilang telah tertutup dengan perasaan-perasaan keakuan dan kesombongan.

Pintu itu bernama memiliki. Kadang kita lupa, ada beberapa orang disisi sana yang sangat cinta kepada kita. Ada orang disana yang sangat menunggu kabar-baik dari kita. Ada orang disana yang setia menunggu kabar berita dari kita, entah senang, sedih, banyak uang, sedikit uang, banyak masalah, atau apalah yang akan dibawa kesana. Ada pula orang disana yang siap menerima segala keluh peluh kita. Ada orang disana yang selalu saja meneteskan air mata, disaat kepergian kita, melepas kita untuk hidup lebih berpisah jauh tanpa tahu kapan akan kembali. Ada orang disana yang sebenarnya cinta, tapi karena ungkapan cintanya tidak sesuai menurut kita, akhirnya kita sangsi dengan output cintanya berbuah bahagia. Orang disana itulah keluarga. Rasa memiliki keluarga itu sekarang kian luntur dengan pergaulan yang kita lakukan. Kecintaan kita pada teman seringkali berlebihan-lebihan, mengenyampingkan keluarga kita yang sebenarnya sangat setia melebihi siapapun di dunia ini. Waktu kian habis, tidak ada lagi prioritas untuk keluarga. Barangkali hanya sekedar untuk menceritakan kegiatan seharian kita secara sekilas, ngapain saja, ketemu siapa, atau malah tidak ada sama sekali ibrah yang bisa kita tularkan kepada keluarga kita yang lain.Sungguh naif. Rasa memiliki keluraga itu kian hilang bersama terakomodasinya kebutuhan hiburan kita dengan apa yang ada disekitar kita. Dan rasa memiliki itu akan terasa saat semuanya sudah tidak ada lagi didepan mata, jauh meninggalkan kita.

Pintu itu bernama memiliki. Seringnya kita bosan dengan kehidupan ini. Kaki melangkah tak tentu arah. Mata menatap terasa buram. Fikiran terasa sangat tertutup. Refreshingpun bukan lagi menjadi hal yang positif, karena lingkungan disekitar kita tidak lagi kondusif, sesuai dengan keadaan yang kita inginkan. Kita lupa akan sahabat-sahabat kita yang pernah terjalin. Kita lupa bahwa kita memiliki teman yang seharusnya kita rawat silaturahimnya, kita jalin kembali persaudaraan yang terputus lama, kita jenguk dirinya saat sakinya, kita doakan kebaikannya atas karunia iman yang diberikan Allah SWT kepada kita semua. Tapi seringanya rasa memiliki sahabat itu sering hilang bersama kesibukan kita. Senyumnya tak lagi menyemangati hari-hari kita. SMS penyemangatnya tak lagi mempan mengingatkan sahabatnya ini untuk berbenah lebih baik. Cintanya tak lagi bisa menyentuh, merasuk ke dalam hati. Kebesaran hati untuk mempunyai rasa memiliki adalah satu pertanda bahwa disekitar kehidupan kita banyak orang sebenarnya yang kita punyai untuk disyukuri.

Pintu itu bernama memiliki. Karena manusianya dari fitrahnya diciptakan lemah. Maka sudah seharusnya menyadari kelemahan dirinya, sehingga sifat sombong, menolak kebenaran dan merendahkan orang lain itu tidak dapat merasuki hatinya. Pintu selalu ada untuk dibuka, kemudian menjadi jalan masuk ke tempat didalamnya. Sehingga memiliki sudah seharunya menjadi rasa yang menjiwai setiap langkah manusia sejati, karena Allah memberikan karunia untuk dimiliki manusia, tetapi hanya sementara dan akan kembali kepada pemilik yang hakiki. Seperti yang tercatat dalam Al Quran, semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Thursday, December 30, 2010

Wallpaper Gabuza Family 2006


Wallpaper yang dulu dibuat saat membuat acara perpisahan gizi kesehatan ugm angkatan 2006. Pada waktu itu ada ide untuk mengabadikan nama temen-temen disebuah gambar typography dan akhirnya jadilah seperti di atas. Mohon maaf ye, jika ada nama temen-temen yang nggak sesuai atau ndak nampak. Barangkali kalau ndak ada, selalu ada di hati koq ^_^V